Kamis, 18 Desember 2014

Biduan Dangdut Hajatan

Hampir di setiap kondangan yang gue jumpai, baik itu di pedesaan, di perumahan, di pinggir jalan, bahkan sampai di perkotaan, selalu saja gue melihat ada biduan dangdut hajatan. Entah mengapa kondangan selalu identik dengan biduan dangdut. Mungkin jauh sebelum gue terlahir di dunia, tradisi ini sudah mendarah daging sejak dahulu kala. Apakah tradisi ini sudah ada sejak jaman bahtera nabi Nuh? Ataukah tradisi ini baru muncul saat Pak Soekarno selesai membacakan naskah proklamasi kemerdekaan? Kalo iya, waktu itu yang jadi biduan dangdutnya siapa dong? Masa iya yang jadi biduan dangdutnya itu Ibu Megawati? Kan gak mungkin, Ibu Megawati yang masih di bawah umur harus nyanyi dangdut sambil hand stand kemudian koprol terus ngomong ke rakyat “Majalengka di goyang, Azeekk”. Kemudian para rakyat yang sedang berada di bawah panggung berkata “Aselole Joss”. Gue masih mikir, kira-kira ekspresi wajah rakyat yang baru saja merasakan kemerdekaan itu seperti apa ya? Masa iya mereka harus nyawer Ibu Megawati sih? Ah, sudahlah. Kepala gue makin error tiap mikirin asal usul biduan dangdut itu darimana.

Berhubung gue terlahir di era kemajuan teknologi yang begitu pesat dan karena guenya juga masih penasaran dengan sejarah munculnya biduan dangdut. Akhirnya, gue coba searching di google tentang sejarah masuknya biduan dangdut di Indonesia. Namun, yang muncul  bukanlah yang gue maksud, ternyata yang muncul itu masuknya Islam pertama kali di Indonesia. Aduh, kalau itu gue udah tahu dari jaman SMP dulu. Mau gak mau, gue harus nyari info lebih jauh lagi. Gue coba tanya ke kakek gue, kali aja di tau banyak soal sejarah perdangdutan di Indonesia. “Kek, siapa sih yang membawa pengaruh dangdut di Indonesia?”, kata gue. “Yang gagal nyalonin diri di pilpres lalu itu nak” jawab kakek. “Oh, Rhoma Irama ya kek” sambar gue. “Iya nak” jawab kakek singkat. Kemudian gue berlalu pergi dan coba buat berpikir kembali. Hm, Rhoma Irama kan cowok. Tapi kok, biduan dangdut bisa ada ya? Jangan-jangan pelopor biduan dangdut itu istrinya sendiri. Dengar-dengar dia punya banyak istri, daripada nganggur lebih baik dia memperkerjakannya sebagai biduan dangdut hajatan. Kan, lumayan buat nambah biaya sehari-hari di rumah. Oke fix, gue mulai tau sedikit asal muasal biduan dangdut. Hoyeeeaaaahhh !

Lupakan soal asal mula biduan dangdut. Sekarang gue lebih tertarik ngebahas tingkah laku para biduan dangdut hajatan yang konon katanya ekstrim dan di luar nalar manusia normal, sampai gak layak tayang di televisi manapun. Menurut pengamatan gue, setelah cukup sering melihat tingkah spontanitas para biduan dangdut langsung dari TKP. Gue cuma bisa berkata “Unbelievable”. Gak semua wanita setangguh dan sekuat mereka. Biduan dangdut hajatan bisa melakukan gerakan hand stand, kayang, koprol, roll kedepan, salto kebelakang, sikap lilin, dan memanjat tiang panggung dalam satu kali penampilannya pada situasi panggung yang kecil. Buat gue itu luar biasa, gue aja gak bisa bayangin kalau gue yang harus ngelakuin semua gerakan itu di atas panggung. Sebagai penonton yang baik kita harusnya menyawer mereka sebagai rasa terima kasih karena telah di suguhkan sebuah pertunjukan yang luar biasa. Hm, memang butuh stamina yang kuat untuk melakukan semua gerakan yang ekstrim itu. Gue sempat mikir, apa ada audisi terlebih dahulu sebelum menjadi seorang biduan dangdut hajatan? Atau mungkin ada sekolah khusus untuk menjadi biduan dangdut professional? Entahlah, gue gak mau mikir sampai sejauh itu. Capek coy ! Huft~


Sebagai paragraf terakhir dari tulisan ini, gue pengin ngasih kesimpulan sedikit. Kenapa? Biar kelihatan keren aja. Haha--- Hm, Janganlah memandang rendah profesi seseorang selama yang mereka kerjakan itu tergolong halal di mata agama. Walaupun hanya sebagai biduan dangdut hajatan. Tapi, selalu ada keringat yang jatuh bercucuran demi mendapatkan sesuap nasi. Gak semua orang bisa melakukan profesi ini, perlu skill tinggi dan kerja keras buat menjadi seorang biduan dangdut hajatan. Meskipun penghasilannya gak menentu, mereka selalu mensyukuri rejeki yang telah di berikan kepadanya. Harusnya kita bisa bercermin pada mereka. Gue nulis seperti ini bukan karena gue lagi dekat dengan seorang biduan dangdut hajatan. Tapi, gue cuma ingin membuka mata kalian yang selalu saja memandang sebelah mata pekerjaan yang mereka geluti. Setidaknya kalian bisa sedikit respect lah kepada mereka para biduan dangdut hajatan. Mereka juga manusia, sama seperti kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar