Hampir di setiap
kondangan yang gue jumpai, baik itu di pedesaan, di perumahan, di pinggir
jalan, bahkan sampai di perkotaan, selalu saja gue melihat ada biduan dangdut
hajatan. Entah mengapa kondangan selalu identik dengan biduan dangdut. Mungkin
jauh sebelum gue terlahir di dunia, tradisi ini sudah mendarah daging sejak
dahulu kala. Apakah tradisi ini sudah ada sejak jaman bahtera nabi Nuh? Ataukah
tradisi ini baru muncul saat Pak Soekarno selesai membacakan naskah proklamasi
kemerdekaan? Kalo iya, waktu itu yang jadi biduan dangdutnya siapa dong? Masa
iya yang jadi biduan dangdutnya itu Ibu Megawati? Kan gak mungkin, Ibu Megawati
yang masih di bawah umur harus nyanyi dangdut sambil hand stand kemudian koprol terus ngomong ke rakyat “Majalengka di goyang, Azeekk”. Kemudian
para rakyat yang sedang berada di bawah panggung berkata “Aselole Joss”. Gue masih mikir, kira-kira ekspresi wajah rakyat
yang baru saja merasakan kemerdekaan itu seperti apa ya? Masa iya mereka harus
nyawer Ibu Megawati sih? Ah, sudahlah. Kepala gue makin error tiap mikirin asal
usul biduan dangdut itu darimana.
Berhubung gue terlahir
di era kemajuan teknologi yang begitu pesat dan karena guenya juga masih
penasaran dengan sejarah munculnya biduan dangdut. Akhirnya, gue coba searching
di google tentang sejarah masuknya biduan dangdut di Indonesia. Namun, yang
muncul bukanlah yang gue maksud,
ternyata yang muncul itu masuknya Islam pertama kali di Indonesia. Aduh, kalau
itu gue udah tahu dari jaman SMP dulu. Mau gak mau, gue harus nyari info lebih
jauh lagi. Gue coba tanya ke kakek gue, kali aja di tau banyak soal sejarah
perdangdutan di Indonesia. “Kek, siapa
sih yang membawa pengaruh dangdut di Indonesia?”, kata gue. “Yang gagal nyalonin diri di pilpres lalu
itu nak” jawab kakek. “Oh, Rhoma
Irama ya kek” sambar gue. “Iya nak”
jawab kakek singkat. Kemudian gue berlalu pergi dan coba buat berpikir kembali.
Hm, Rhoma Irama kan cowok. Tapi kok, biduan dangdut bisa ada ya? Jangan-jangan
pelopor biduan dangdut itu istrinya sendiri. Dengar-dengar dia punya banyak
istri, daripada nganggur lebih baik dia memperkerjakannya sebagai biduan
dangdut hajatan. Kan, lumayan buat nambah biaya sehari-hari di rumah. Oke fix,
gue mulai tau sedikit asal muasal biduan dangdut. Hoyeeeaaaahhh !
Lupakan soal asal mula
biduan dangdut. Sekarang gue lebih tertarik ngebahas tingkah laku para biduan
dangdut hajatan yang konon katanya ekstrim dan di luar nalar manusia normal,
sampai gak layak tayang di televisi manapun. Menurut pengamatan gue, setelah
cukup sering melihat tingkah spontanitas para biduan dangdut langsung dari TKP.
Gue cuma bisa berkata “Unbelievable”.
Gak semua wanita setangguh dan sekuat mereka. Biduan dangdut hajatan bisa
melakukan gerakan hand stand, kayang, koprol, roll kedepan, salto kebelakang,
sikap lilin, dan memanjat tiang panggung dalam satu kali penampilannya pada
situasi panggung yang kecil. Buat gue itu luar biasa, gue aja gak bisa bayangin
kalau gue yang harus ngelakuin semua gerakan itu di atas panggung. Sebagai
penonton yang baik kita harusnya menyawer mereka sebagai rasa terima kasih
karena telah di suguhkan sebuah pertunjukan yang luar biasa. Hm, memang butuh
stamina yang kuat untuk melakukan semua gerakan yang ekstrim itu. Gue sempat
mikir, apa ada audisi terlebih dahulu sebelum menjadi seorang biduan dangdut
hajatan? Atau mungkin ada sekolah khusus untuk menjadi biduan dangdut
professional? Entahlah, gue gak mau mikir sampai sejauh itu. Capek coy ! Huft~
Sebagai paragraf
terakhir dari tulisan ini, gue pengin ngasih kesimpulan sedikit. Kenapa? Biar kelihatan
keren aja. Haha--- Hm, Janganlah memandang rendah profesi seseorang selama yang
mereka kerjakan itu tergolong halal di mata agama. Walaupun hanya sebagai
biduan dangdut hajatan. Tapi, selalu ada keringat yang jatuh bercucuran demi
mendapatkan sesuap nasi. Gak semua orang bisa melakukan profesi ini, perlu
skill tinggi dan kerja keras buat menjadi seorang biduan dangdut hajatan.
Meskipun penghasilannya gak menentu, mereka selalu mensyukuri rejeki yang telah
di berikan kepadanya. Harusnya kita bisa bercermin pada mereka. Gue nulis
seperti ini bukan karena gue lagi dekat dengan seorang biduan dangdut hajatan.
Tapi, gue cuma ingin membuka mata kalian yang selalu saja memandang sebelah
mata pekerjaan yang mereka geluti. Setidaknya kalian bisa sedikit respect lah kepada mereka para biduan
dangdut hajatan. Mereka juga manusia, sama seperti kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar